Ada yang tak bisa disentuh hanya dengan belaian, ada yang tak mampu dilihat hanya dengan tatapan, bahkan ada yang tak dapat dirasakan hanya dengan hati. Karena tak jarang kita kehilangan kepekaan meski masih ada sekerat daging itu di dalam tubuh, bukan karena tak punya hati seseorang mampu melakukan sesuatu di luar kebiasaan, tapi rasa itu yang hilang, kepekaan itu yang lenyap karena kebiasaan hidup yang menyeret kaum hedonis pada kesesatan. Siang itu, terik mentari begitu menyengat, debu-debu beterbangan digiring angin kemarau. Suara Azan baru saja selesai dikumandangkan dari salah satu pengeras suara sebuah mesjid di tengah kota. Orang-orang yang ingin shalat berjama’ah mulai bergerak kearahnya, jumlahnnya relatif sedikit jika dibandingkan dengan jama’ah shalat jum’at. Begitu kontras dengan pemandangan yang disuguhkan oleh bangunan yang tak jauh dari mesjid berukuran besar tersebut, sejumlah pertokoan serba ada yang dipenuhi oleh mereka yang tengah mencari kebutuhan hidup untuk sehari-hari. Iqamat telah diserukan, dan imam mulai bersiap memimpin shalat Dhuhur. Khusyuk melingkupi para jama’ah yang sedang berhadapan dengan Rabbnya. *** Sepasang kaki sedang malangkah menuju sebuah pemukiman beraroma tidak sedap, aroma khas yang menusuk indera penciuman setiap siapa saja yang melalui jalan setapak yang lumayan becek karena di guyur oleh air hujan tadi malam. Daerah kumuh tersebut memang sangat jauh dari kata indah, setiap sudutnya hanya ada sampah dan sampah, namun tumpukan benda-benda busuk itulah yang telah menjadi tumpuan hidup orang-orang yang tinggal disana, di antara tumpukan-tumpukan sampah yang menggunung. Sejumlah anak kecil berlarian tanpa alas kaki sedang bermain tanpa peduli dengan sekitarnya, mereka sudah terbiasa dengan bau-bauan tak sedap hasil dari pembusukan berbagai macam sisa barang atau makanan yang sengaja dibuang oleh pemiliknya. Langkah kaki itu berhenti di depan sebuah rumah tempel, begitulah biasanya warga disana menyebut tempat tinggalnya, karena memang bangunan sempit tersebut hanya ditempeli oleh triplek, kardus, dan benda-benda lainnya yang tentu saja semuanya adalah barang bekas hasil dari perolehan “mulung”(istilah untuk pekerjaan mereka sehari-hari). Seorang anak muncul dari dalam rumah yang terlihat seperti sebuah replika bangunan tak jelas itu, anak kecil dengan usia kurang lebih 6 tahun tersebut keluar tanpa mengenakan baju, memang cuaca saat itu sedang panas-panasnya, di tambah lagi atap rumah mereka yang terbuat dari seng bekas dan berkarat, menambah parah keadaan. Dia melangkah sambil tersenyum lebar mempertontonkan giginya yang tak rapat, “Kak Imaaaaan… kok lama sih kak datangnya? Rian dari tadi nugguin kakak lo..” anak ingusan itu menghambur ke arah lelaki muda yang baru saja hadir di hadapannya, “iya anak sholeh.. maaf ya, tadi kakak banyak urusan” jawabnya dengan senyum yang tulus “hm..kakak sibuk teyuss… kalo gitu aku nggak kepengen gede ah.” Ujarnya lagi, kali ini sambil mengelap ingusnya dengan tangan, “lho, kenapa ade tampan?” sang kakak mengerutkan keningnya namun tetap memasang senyum ramah, “soalnya oyang gede itu sibuk melulu!” ujarnya sambil memonyongkan mulutnya yang mungil, “tapi kalo kecil terus kayak gini, gimana bisa jadi Dokter?” Rian memang selalu mengatakan pada siapa saja yang menanyakan cita-citanya kalau dia ingin menjadi seorang dokter, “kalau jadi dokter itu keren lo kak.. bajunya bagus!” katanya suatu ketika saat pertama berkenalan dengan Iman. “emangnya kalo nggak gede, nggak bisa jadi dokter ya kak?” “iya dong.. Rian musti gede dulu,makanya makannya jangan nggak habis, trus belajar yang rajin biar nanti bisa jadi dokter seperti cita-cita Rian, Oke..?” bocah kecil itu menggaruk-garuk kepalanya sebentar lalu mengangguk dengan mantap “Oke kak..” “kita langsung ke markas yuk..” ajak Iman dengan semangat, “Ayoo..” Rian menggapai tangan pemuda 21 tahun yang terkenal ramah tersebut dengan erat. *** “Alhamdulillahirabbil’alamiin…” Iman dan bocah-bocah dihadapannya baru saja menuntaskan belajar bersamanya sebelum azan ashar berkumandang, sudah sekitar 6 bulan ini Iman akrab dengan anak-anak yang berada di kawasan kumuh tersebut, 3 kali dalam seminggu dia datang untuk mengajar iqra dan sesekali diselingi dengan praktek shalat. Iman dikenal sebagai seorang pemuda yang tak hanya cerdas semasa duduk di bangku kuliah, namun juga sangat peka terhadap keadaan sekitarnya. Awalnya Iman bertemu dengan Rian di sebuah warung kecil yang letaknya tak jauh dari tempatnya tinggal. Saat itu Iman sedang membeli sesuatu, dan tanpa sengaja dompetnya terjatuh setelah membayar barang-barang yang ia beli, dan Rianlah yang menemukan dompet tersebut, dan menyerahkannya kepada Iman, dari sanalah cerita awal pertemuan mereka. Banyak cerita yang didapat Iman dari anak lelaki yang penuh semangat tersebut. Hingga akhirnya Iman merasa terpanggil hatinya untuk memberikan bimbingan belajar secara cuma-cuma kepada anak-anak di pemukiman tempat Rian dan keluarganya tinggal. Biasanya Iman datang setiap setelah dhuhur untuk mengajar membaca dan berhitung di hari senin, rabu, dan jum’at, dan sisanya kecuali hari minggu mereka diajarkan membaca huruf hijaiyah atau iqra’. Menjelang ashar Iman dan beberapa anak tersebut menyudahi belajar bersamanya. Rian dan teman-temanya yang lain seperti Galang, Reno, Adit, Sukma, Mala, Nanda, dan yang lainnya memang sudah terbiasa hidup ditengah gunungan sampah yang menyuguhkan aroma khas. Mereka sebenarnya sekumpulan anak-anak yang memiliki potensi besar untuk menjadi “SESEORANG” di masa depan, kalau saja alasan ekonomi yang sempit tidak menjadi permasalahan dalam hidup mereka. Sekalipun begitu, mereka tak pernah merasa rendah diri dengan segala keterbatasan yang mereka punya. Satu hal yang lebih penting adalah mereka anak-anak yang jujur meskipun keadaan mungkin bisa saja membuat mereka menjadi segerombolan manusia tanpa hati nurani. *** Usai shalat maghrib, seperti biasa Iman masih harus mengajari anak-anak di seputar komplek rumahnya mengaji, ada belasan anak yang selalu menantikan kedatangan ustadz muda ini, “ustadz muda”, begitu ia sering di panggil oleh para tetangga yang ada disekitar komplek rumahnya, tak salah jika banyak ibu-ibu yang bermimpi untuk menjadi mertuanya, ia dikenal sebagai lelaki yang ramah pada semua orang, kepintarannya dalam ilmu agama dan yang lain tak membuatnya berbesar hati. Satu lagi nilai plus bagi lelaki ini, ia tak pernah membiarkan setiap orang yang datang meminta-minta padanya pergi tanpa sempat ia ajak makan diwarung atau sekedar diajak ngobrol jika memang sedang tak ada uang disaku. Ia sosok lelaki yang amat dicintai oleh murid-murid mengajinya, disayangi oleh semua tetangga tak terkecuali para penjual gorengan atau tukang bakso yang sering mangkal di komplek dekat rumahnya, semuanya tau betul bagaimana watak lelaki muda yang ramah ini. Hari-harinya dipenuhi dengan kesenangan berbagi dengan sesama, meskipun… mungkin tak ada yang tau kalau sebenarnya ustadz muda tersebut menyimpan sebuah rahasia dalam hatinya. Malam semakin pekat, diluar sana awan hitam menyelimuti langit yang tak lagi biru. Angin kencang menerbangkan debu-debu jalan beserta sampah-sampah yang ada. Dedaunan jatuh meninggalkan ranting pohon yang terombang-ambing oleh angin malam. Sementara disudut kamar sebuah rumah sederhana, ada butiran air bening yang jatuh satu-satu dari kedua sudut mata yang teduh, pemiliknya saat itu tengah tertunduk pasrah dihadapan Rabb-Nya, tubuhnya bergetar hebat, ada banyak kata yang terucap dari lisannya. Saat itu.. tak ada hijab antara seorang hamba dengan Rabbnya. Langit malam menjadi saksi untuk sebuah penghambaan di sepertiga malam penuh pengampunan. “Duhai Rabbi… segala Puji bagi-Mu yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tak ada satupun yang Kau ciptakan sia-sia, hamba bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan, meski kadang hamba-Mu yang dhaif ini tak lepas dari sifat mengeluh atas sesuatu yang menimpanya. Ampuni diri ini Ya Rabb…tak seharusnya diri ini tidak menerima takdir yang telah Engkau gariskan. Duhai Allah… jika dengan adanya penyakit ini Engkau Ridho kepadaku, maka hambapun rela. Maafkan segala khilaf diri ini Ya Rabb…Engkau Maha Tau apa yang menjadi harap dalam hati ini, maka perkenankanlah…namun jika harapan tersebut membuat hamba jauh dari Ridho-Mu, maka buatlah hamba ikhlas dengan segala keputusan Yang Engkau Tetapkan. Sungguh… Ridho’Mu jualah yang menjadi harapan dalam setiap doa yang terpanjatkan. Ampuni dosa2 kedua orangtua hamba, saudara, kerabat, dan para guru, serta orang-orang yang pernah hamba sakiti dan pernah menyakiti hamba. Berikan kami kenikmatan dalam beribadah kepada-Mu, anugerahkan kami hati yang bersih agar mampu menerima kebaikan yang datang dari-Mu, berikan kami ke-istiqomahan dalam ketaatan kepada-Mu, matikan kami dalam keadaan khusnul khatimah, lapangkan kubur kami Ya Allah…pertemukan kami lagi disurga firdaus-Mu, izinkan kami menatap wajah-Mu dalam keridho’an-Mu. Amin… Begitu panjang doa yang dipanjatkan oleh lelaki berhati lembut tersebut, ada banyak harapan yang ia mintakan kepada Zat yang memiliki Kesempurnaan Hakiki. Hingga fajar tiba, dan tak berselang lama azan subuh berkumandang. Iman yang masih sibuk dengan zikirnya bersegera menuju mesjid Al-Falah, baru melangkahkan kakinya menuju ruangan mesjid, hati Iman bergetar hebat, dia merasakan sekujur tubuhnya seketika dingin. Usai mengerjakan shalat sunat, Iman dan para jama’ah yang lain merapatkan shaf, dan mengerjakan shalat subuh berjama’ah, imam shalat tersebut membacakan surat As-shaf pada rakaat kedua,“Innallaha yuhibbulladziina yuqaatiluuna fiisabilihi shaffan ka annahum bunyaanummarshus..” belum separo surat as-shaf dibaca oleh imam, tubuh Iman kembali bergetar hebat. Keningnya berkeringat, jantungnya berdegup kencang, dan kepalanya terasa begitu berat. Sekuat tenaga Iman mencoba untuk tetap khusyuk mengikuti imam untuk menuntaskan shalat subuhnya, tepat setelah salam, tubuh Iman tersungkur dengan posisi sujud menghadap kiblat, sejumlah jama’ah yang kaget melihat Iman terjatuh seketika berkerumun dan mengangkat tubuh yang sebenarnya tinggal jasad tanpa ruh. Ya… ustadz muda itu kini telah kembali kehadapan Rabb yang amat ia cintai sepenuh jiwa, penyakit yang selama ini bersarang dikepalanya tak diketahui oleh orang lain, tak ada yang tau kalau sebenarnya selama ini ustadz muda tersebut mengidap sebuah penyakit yang tak ringan, kanker otak stadium akhir. Segala upaya sudah ia lakukan agar dapat sembuh, namun takdir-Nya berkata lain, Rabbnya ternyata lebih menginginkaan Iman untuk segera menghadap-Nya. Langit pagi itu begitu pekat, mengantarkan jenazah seorang Iman ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Setelah dimandikan dan di sholatkan di mesjid, jasad Iman dikuburkan tidak jauh dari makam ayah bundanya yang sejak lama telah lebih dulu menghadap Yang Kuasa. Pemakaman diiringi tangis haru oleh semua yang hadir, seluruh tetangga dan murid Iman yang selama ini menjadi tempat Iman berbagi ilmu dan cerita juga turut berkumpul dalam duka yang mendalam. Selamat jalan ustadz muda.. semoga Allah memuliakan tempat-Mu disisi-Nya, amin… The end.