I. PENDAHULUAN
Berdasarkan tinjauan historis, Islam adalah agama samawi terakhir, ia merupakan agama penutup. Tidak itu saja tapi juga sekaligus sebagai penyempurna agama samawi terdahulu, seperti Yahudi yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS, dan agama Nasrani yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa AS. Sebagai agama penutup yang menyempurnakan agama-agama terdahulu maka ajaran Islam sifatnya universal, artinya Islam tidak untuk agama bangsa Arab atau bangsa tertentu saja, akan tetapi untuk seluruh bangsa dan umat manusia di permukaan bumi ini.
Selain menjadi agama penutup dan penyempurna, Islam juga dikenal sebagai agama universal, karena itu Islam senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya supaya melakukan sosialisasi dan aktualisasi, agar ajaran-ajarannya betul-betul membumi dan dipraktekkan umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Upaya untuk melakukan sosialisasi dan malah aktualisasi ajaran-ajaran Islam tersebut dapat dituangkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Namun harus aktivitas itu harus sesuai dengan garis-garis kebijakan yang sudah ditentukan.
Upaya itulah yang dinamakan dakwah, yang digarap secara berkelanjutan atau terus-menerus sejak Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabi’in dan generasi berikutnya hingga sekarang dan Insya Allah akan berlanjut di masa yang akan datang. Mengingat tugas dakwah yang selalu digarap secara berkesinambungan itulah, maka Islam tidak dapat dipisahkan dengan dakwah. Sejak awal Islam dikenalkan, dibina dan bahkan dikembangkan di permukaan bumi ini dengan pendekatan dakwah, yang realisasinya menempuh berbagai media, metode dan bahkan strategi.
Fakta historis tersebut menjadi semakin jelas manakala dikaitkan dengan apa yang telah dicatat dalam sejarah Islam (tarikh). Nabi Muhammad SAW mendapat amanah sekaligus kepercayaan dari Allah untuk melaksanakan tugas dakwah itu secara perdana di permukaan bumi ini. Hampir seperempat abad lamanya Rasulullah SAW bekerja keras tanpa mengenal lelah, siang dan malam melancarkan tugas suci itu. Setelah menghadapi berbagai tantangan, rintangan dan cobaan yang silih berganti, akhirnya Islam bisa berkembang pesat, tak hanya di jazirah Arab tapi juga sampai berbagai pelosok negeri.
Aktivitas dakwah yang digarap Rasulullah dibantu oleh para sahabat, sehingga Islam tidak hanya berhasil menyebar ke beberapa negara. Bermula di kota Mekkah, lalu melebar ke kota Madinah. Khusus di Madinah, tidak kurang dari 10 tahun lamanya mampu mewujudkan masyarakat Islam yang berkualitas. Di sini prinsip demokrasi, toleransi dan kebersamaan bisa dipraktekkan dengan baik, walaupun kondisi masyarakat dan agama serta kepercayaan yang mereka anut sangat beragam. Tapi dengan semangat dakwah semua berada dalam pemerintahan Islam, di mana Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negaranya.
Kondisi dakwah pada masa itu menentukan sekali, sebab bukan cuma sekadar mengembangkan agama Islam saja. Namun juga termasuk menata pemerintahan, dan membina kehidupan bermasyarakat. Fenomena ini tentu saja menarik dikaji guna menjadi cerminan sekaligus acuan untuk lebih menghidupkan lagi gerak dinamis dakwah di masa sekarang dan masa yang akan datang. Sehingga pada akhirnya nanti dapat dipahami bahwa Islam itu adalah agama dakwah.

II. MAKNA HAKIKI DAN PRINSIP DAKWAH
Sejak dulu hingga kini, dalam bahasa Indonesia ditemukan banyak kata serapan yang berasal dari bahasa asing, lalu resmi menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Salah satu di antaranya adalah perkataan dakwah yang berasal dari bahasa Arab. Kata dakwah itu sendiri secara etimologi berasal dari : دعا ـ عو يد ـ دعوة (da’a – yad’u – da’watan), artinya mengajak1. Arti ini oleh Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, diperluas menjadi penyiaran, propaganda, penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama2.
Menurut pakar dakwah senior, Prof. Thaha Yahya Oemar dalam bukunya Ilmu Dakwah, dengan tegas menyatakan bahwa, secara harfiah dakwah Islam dapat diartikan sebagai menyeru atau memanggil orang untuk Islam3. Pengertian ini sangat spesifik dan hanya berlaku untuk agama Islam saja, jadi berbeda dengan pengertian menurut bahasa Indonesia yang terkesan sangat umum.
Kemudian pengertian dakwah secara terminologi atau menurut istilah, antara lain dikemukakan oleh pakar Ilmu Dakwah yang sering tampil di berbagai forum ilmiah yang membahas tentang dakwah, yakni Drs. Amrullah Achmad: Pada hakikatnya, dakwah Islam merupakan aktualisasi imani (teologis) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap dan bertindak manusia pada dataran kenyataan individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu4.
Pengertian atau definisi di atas maknanya luas sekali, sebab di dalamnya terdapat beberapa elemen penting atau unsur-unsur dakwah itu sendiri, seperti materi pokok, metodologi, manajemen, strategi, logistik dan berbagai aktivitas sosial yang terkait, serta tujuan dakwah itu sendiri. Temasuk masalah akan dijadikan sasaran atau objek dakwah.
Selain yang disebutkan di atas, ada berbagai pendapat lain tentang dakwah juga banyak dikemukakan para tokoh, pengamat maupun praktisi dakwah; sesuai dengan kecenderungan yang bersangkutan. Betapapun juga pendapat yang dikemukakan itu pada dasarnya menunjukkan luasnya khazanah perbendaharaan makna dakwah dalam Islam. Artinya ia mempunyai peran, fungsi dan bahkan menempati posisi yang amat menentukan. Hal itu misalnya terlihat dalam pernyataan dua tokoh yang disebutkan berikut ini.
Dakwah adalah aktualisasi atau realisasi salah satu fungsi kodrati seorang muslim, yaitu fungsi kerisalahan berupa proses pengkondisian agar seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Dengan ungkapan lain, hakikat dakwah adalah suatu upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi keadaan yang lain yang lebih baik menurut tolak ukur ajaran Islam sehingga seseorang atau masyarakat mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Pengkondisian dalam perubahan tersebut, berarti upaya menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek dakwah. Agar perubahan dapat menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek, maka dakwah juga harus mempunyai makna bagi pemecahan masalah kehidupan dan pemenuhan kebutuhan5.
Selanjutnya Jum’ah Amin Abdul Aziz dalam bukunya Ad-Da’wah, Qawaa’id wa Ushuul, setelah cukup panjang lebar membicarakan kewajiban melaksanakan dakwah bagi umat Islam berdasarkan syar’i atau dalil-dalil Al Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW, menyimpulkan: Secara ringkas bisa kita katakan bahwa pada masa kita sekarang ini setiap muslim dan muslimah yang sudah aqil baligh terkena kewajiban dakwah. Ini bukan hanya kewajiban bagi para ulama sebagaimana dipahami kaum muslimin pada umumnya, karena setiap muslim dituntut untuk menyampaikan apa yang dipahami dan diketahuinya6.
Beberapa pendapat yang dikemukakan di atas menunjukkan, bahwa dalam perspektif hukum Islam, setiap kaum muslimin-muslimat yang sudah dikenai tuntutan hukum (mukallaf), hukumnya wajib ntuk berdakwah. Status wajib di sini adalah fardu ain, bukan fardu kifayah; artinya berpahala bila melaksanakan dan sebaliknya berdosa bila meninggalkan. Hakikat wajib di sini sama halnya hukum wajib menunaikan sholat yang lima waktu.
Sungguhpun demikian, pelaksanaan dakwah tersebut disesuaikan dengan kapasitas, status dan profesi, potensi juga situasi serta kondisi masing-masing. Dalam kaitan ini yang perlu digarisbawahi, makna umat manusia berarti luas sekali, sehingga bila dilihat dari agamanya, minimal ada orang Islam dan ada pula yang non Islam, keduanya wajib didakwahi, termasuk diri pribadi sendiri.
Kaitannya dengan dakwah yang ditujukan kepada pemeluk Islam dan non Islam seperti disinggung di atas, menarik disimak apa yang dikemukakan Guru Besar Islam pada Universitas Temple, Philadelphia, USA, Prof. Dr. Raji Ismail Al Faruqi, dalam makalahnya “Sifat Dasar Dakwah Islamiyah” yang disampaikan di hadapan peserta dialog Internasional tentang dakwah Islam dan misi Kristen tahun 1976 di Chambesy, Swizerland; mengatakan sebagai berikut:
Berdasarkan perintah Tuhan, dakwah haruslah merupakan produk akhir dari proses kritis intelektual. Isinya tidak cuma berisi apa yang diketahui dan yang disajikan. Karena hal tersebut tidak ada judgement tanpa pertimbangan dalam alternatif, tanpa perbandingan dengan sesuatu yang kontras/menyolok, tanpa pengujian konsistensi ke dalam diri konsistensi umum dengan seluruh pengetahuan yang lain, tanpa pengujian mengenai hubungan dengan kenyataan. Aspek dakwah yang diperoleh dengan apa yang dikatakan hikmah atau hidayah Allah, seperti yang diperoleh Rasulullah SAW sebagai orang yang diberi hikmah yang tepat karena Islam adalah sesuatu yang harus dipelajari, bukannya pikiran sempit yang tentu saja bukan suatu “prejudgement”. Itulah sebabnya mengapa dakwah dalam Islam tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif, yang ditujukan bagi orang-orang non Muslim. Dakwah juga ditujukan bagi orang Muslim seperti halnya non Muslim.
Lebih jauh dikatakan, di samping bergerak dari fakta bahwa semua manusia di hadapan Allah adalah sama, universalisme dakwah terletak pada identitas imperatif untuk mengajak orang memeluk Islam. Semua manusia mempunyai kewajiban yang sama untuk mengaktualisasikan pola Ilahi dalam ruang dan waktu. Tugas ini tidak pernah lengkap dimiliki setiap individu. Muslim adalah orang yang telah mentekadkan dirinya untuk berada dalam jalan aktualisasi dakwah7.
Begitulah betapa concern-nya Islam menekankan umatnya untuk berdakwah, kendatipun hasil dakwah itu sendiri tergantung pada kudrat dan iradat Allah, atau hidayah dan anugerah kasih sayang-Nya. Dalam hal ini khususnya berkenaan dengan transformasi akidah dari musyrik menjadi mukmin, dari kafir menjadi Islam, dari ragu menjadi yakin, dari negatif jadi positif, bahkan dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi dan seterusnya.
Oleh karena begitu dominannya proporsi dakwah dalam keseharian sistem ajaran Islam, di mana tiada hari tanpa dakwah, kiranya sangat beralasan kalau pakar Ilmu Perbandingan Agama (Study Comparative of Religion) dari Jerman, Prof. Fredrick Max Muller, seperti dikutip Arnold8, dalam kuliahnya di Westminster Abbey bulan Desember 1873 di hadapan pertemuan kaum misi; mengakui Islam sebagai agama dakwah (missionary religious).
Menurut F. Max Muller, yang dimaksud agama dakwah itu ialah agama yang di dalamnya, usaha menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya dianggap sebagai tugas suci oleh pendirinya atau oleh para penggantinya. Semangat memperjuangkan kebenaran itulah yang tak kunjung padam dari jiwa para penganutnya sehingga kebenaran itu terwujud ke dalam jiwa setiap orang, sehingga apa yang diyakini sebagai kebenaran diterima oleh seluruh manusia.
Agama Islam dan dakwah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, boleh dikatakan dakwah bagaikan urat nadinya agama Islam. Islam dikenalkan secara perdana, dibangun, kemudian disebarluaskankan ke seluruh permukaan bumi ini dengan dakwah. Sebagai konsekuensinya, maka kualitas umat Islam pun dapat ditingkatkan melalui berbagai usaha-usaha dakwah. Dalam hal ini apakah melalui jalur pendidikan formal, pendidikan in formal atau pendidikan non formal, atau dengan memanfaatkan jalur-jalur lain.
Hal tersebut juga diakui K.H.A. Syamsuri Siddiq, yang menyatakan bahwa dakwah dan Islam merupakan dua bagian yang tak terpisahkan satu dari yang lainnya, karena Islam tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa dakwah. Sebaliknya dakwah pun bukanlah dakwah namanya kalau bukan untuk Islam. Umumnya orang tahu bahwa Islam itu baik, justru karena baiknya, Islam harus didakwahkan secara benar dan baik pula. Bila tidak, maka bukan keberhasilan yang diraih melainkan sebaliknya kerugianlah yang dialami9.
Jadi dakwah tidak saja diperlukan, tapi menunjukkan sesuatu kebutuhan yang penting dalam kehidupan umat manusia, terutama sekali kaum Muslimin dan Muslimat. Bahkan lebih tegas lagi dapat dikatakan, bahwa dakwah adalah ruh atau jiwanya agama Islam dan umatnya. Itulah sebabnya, manakala dilaksanakan dengan tulus ikhlas, maka dakwah tidak saja dapat dipandang sebagai tugas suci, namun sekaligus juga merupakan tugas mulia lagi terhormat; baik dalam pandangan manusia, apalagi di hadapan Allah SWT.
Sehubungan dengan ini, menurut Amin Ahsan Ishlahi, dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 104 dan 110, Allah dengan tegas menyatakan agar kaum muslimin melaksanakan dakwah, dan mereka yang melaksanakannya dinyatakan sebagai orang yang beruntung dan malah menjadi umat terbaik. Dengan berdakwah berarti kaum Muslimin telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya, sehingga mengangkat statusnya sebagai sebaik-baik umat di antara umat yang ada di dunia ini10.
Dua firman Allah dalam surah Ali Imran yang dimaksudkan itu, lengkapnya sebagai berikut :
  •             
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Ayat: 104).
  •  ••                     
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Ayat: 110)
Di samping dua ayat di atas, Allah SWT juga menyatakan dalam firman-Nya dalam surah Fushshilat ayat 33:
             
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri ?”
Di samping tiga ayat Al Qur’an tersebut, Nabi Muhammad SAW juga bersabda sehubungan dengan keutamaan para pelaku dakwah tersebut, yaitu sebagai berikut:
من دل على خير فله مثل اجر فاعله.
Artinya: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, ia berhak memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya (Riwayat Bukhari)”.
Sementara itu dalam hadits lainnya lagi Rasulullah SAW juga menyatakan hal serupa, namun dengan ungkapan berbeda : “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (Riwayat Muslim).
Masih dalam konteks keutamaan melaksanakan dakwah tersebut dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan betapa kelebihan orang-orang yang melaksanakan dakwah : “Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di dalam lubangnya, dan ikan-ikan yang adadi laut, semuanya bersalawat atas orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (Riwayat Tirmidzi).
Semua dalil naqli di atas membuktikan bahwa Islam menempatkan dakwah dengan sangat proporsional lagi dominan, juga menjadikannya sebagai suatu urusan yang begitu penting, krusial. Oleh sebab itulah Jum’ah Amin Abdul Aziz optimis Islam akan bangkit kembali manakala dakwah dilaksanakan umatnya dengan baik dan benar, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan tokoh-tokoh Islam lainnya dalam sejarah.
Tepatnya Aziz mengungkapkan seperti berikut: Melalui dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan para aktivis untuk memperjuangkan agama ini, maka dengan izin Allah SWT umat akan sampai pada kejayaan, keagungan dan kepemimpinan. Hal itu hanya bisa dicapai dengan keikhlasan, keteguhan, ‘izzah , dan bashirah mereka. Sehingga dengan itu Allah mengangkat panji kebenaran, dan kitapun bisa mewujudkan kebaikan, sehingga umat (Islam) menjadi sebaik-baik umat yang ditampilkan di permukaan, yang senantiasa memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah deari yang munkar, serta beriman kepada Allah SWT11.

III. PELAKSANAAN DAKWAH
Demikian dalam serta luas sekali makna dakwah secara hakiki, sebab tidak hanya dari segi pemaknaan saja, tapi juga bisa dilihat dari segi pelaksanaannya. Atas dasar pelaksanaan atau operasionalisasi di lapangan ini, dakwah bisa dikembangkan, diklasifikasi menjadi beberapa bentuk aktivitas dengan perwujudan yang bervariasi, serta menggunakan media maupun pendekatan beragam.
Itulah sebabnya tidak heran, dan malah sangat beralasan kalau Dr. B. Setiawan dan kawan-kawan dalam Ensiklopedi Nasional 4, membedakan dakwah secara garis besar menjadi dua bentuk, yaitu (1) dakwah bilisanil maqal, dan (2) dakwah bilisanil hal. Bentuk pertama bersifat verbal, baik melalui lisan maupun tulisan, sedang bentuk kedua dilakukan dengan kegiatan meningkatkan kualitas kehidupan sasaran dakwah12.
Pengklasifikasian berdasar pelaksanaan ini tampaknya ada dua saja, akan tetapi pada prinsipnya ada tiga, sebab dakwah bilisanil maqal sebenarnya dua bentuk kegiatan, yakni yang dilakukan secara lisan (bil lisan) dan yang dilakukan dengan tulisan (bil maqal). Adapun bentuk yang ketiga ialah dakwah yang dilakukan melalui perbuatan nyata, artinya lebih menonjolkan segi-segi aplikasi konkrit daripada hanya sekedar ucapan (bilisanil hal).
Senada dengan pendapat di atas, Dra. Siti Muri’ah, seorang muballighah dan mantan Ketua STAIN Samarinda, memasukkan dakwah bil lisan sebagai salah satu bentuk dakwah kontemporer. Menurutnya, dakwah bil lisan adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek)13.
Selain itu, dalam buku Prinsip dan Strategi Dakwah, Rafi’udin, S.Ag dan Drs. Maman Abdul Djaliel, secara gamblang menjelaskan dakwah bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil kitabah. Masing-masing bentuk dakwah itu diberi contoh tersendiri, sehingga makin jelas maksudnya, yakni sebagaimana disebutkan dalam uraian di bawah ini.
Dakwah bil lisan adalah dakwah yang dilakukan dengan menggunakan lisan, antara lain :
1. Qaulun ma’rufun, yaitu dengan berbicara dalam pergaulannya sehari-hari yang disertai dengan misi agama (Islam), seperti penyebarluasan salam, mengawali pekerjaan dengan membaca basmalah, mengakhiri pekerjaan dengan membaca hamdalah, dan sebagainya.
2. Mudzakarah, yaitu mengingatkan orang lain jika berbuat salah, baik dalam ibadah maupun dalam perbuatan.
3. Nashihatuddin, yaitu memberi nasihat kepada orang yang tengah dilanda problem kehidupan agar mampu melaksanakan agamanya dengan baik, seperti bimbingan serta penyuluhan agama dan sebagainya.
4. Majlis ta’lim, yaitu pengajian agama tentang sesuatu persoalan dari bab-bab tertentu dengan menggunakan buku/kitab dan diakhiri dengan dialog.
5. Pengajian umum, yaitu menyajikan materi dakwah di depan umum, isi dari materi dakwahnya tidak terlalu banyak, tetapi dapat menarik perhatian pengunjung.
6. Mujadalah, yaitu berdebat dengan menggunakan argumentasi serta alasan serta diakhiri dengan kesepakatan bersama dengan menarik satu kesimpulan. Mujadalah ini biasanya menghasilkan beberapa alternatif pendapat dan dilaksanakan terkadang oleh kelompok masing-masing14.
Patut diketahui bahwa dakwah bil kitabah, yaitu dakwah yang menggunakan keterampilan tulis menulis berupa artikel atau naskah yang kemudian dimuat di dalam majalah, surat kabar, brosur, buletin, buku dan sebagainya. Dakwah seperti ini mempunyai kelebihan, yakni dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lebih lama serta lebih luas jangkauannya, di samping masyarakat atau suatu kelompok dapat mempelajari serta memahaminya sendiri bahkan tidak sedikit yang otodidak.
Adapun dakwah bil hal, yaitu dakwah yang dilakukan melalui berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat sebagai objek dakwah dengan karya subjek dakwah serta ekonomi sebagai materi dakwah. Di antara contoh dakwah bil hal ialah seperti :
1. Memberi bantuan dana usaha yang produktif untuk muallaf (orang yang baru masuk Islam) atau umat Islam yang membutuhkan.
2. Bersilaturrahmi ke tempat-tempat yatim piatu, panti jompo, anak cacat, tuna wisma, lembaga pemasyarakatan, lokalisasi dan lain-lain.
3. Pengabdian kepada masyarakat, misalnya membuat/membangun jalan atau jembatan, sumur dan kakus atau jamban umum, membangun rumah sakit, rumah ibadah, sekolah dan lain sebagainya.
Guru Besar Ilmu Dakwah pada IAIN Ar-Raniry, Prof. H.A. Hasjmy mempergunakan istilah yang berbeda untuk menerangkan dakwah bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil kitabah. Namun pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Untuk dakwah bil lisan dipakai istilah mimbar dan khithabah, untuk dakwah bil hal digunakan istilah masrah dan malhamah, sedang untuk dakwah bil kitabah diistilahkan dengan qalam dan khithabah. Namun Hasjmy memberi arti tambahan khusus, mimbar dan khithabah misalnya ditekankan pada dakwah seperti ceramah di mimbar. Masrah dan malhamah berupa pementasan pendramaan atau pertunjukan tentang sesuatu agar lebih berkesan dan lebih meresap. Qalam dan khithabah ditekankan pada keahlian dalam bidang publisistik, termasuk bidang percetakan, penyiaran dan perfilman15.
Berkenaan dengan hal itu pula, Guru Besar ilmu Dakwah pada IAIN Antasari, Prof. H. Anwar Masy’ari, MA dalam bukunya Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah, mempergunakan istilah lain lagi dan berbeda dengan apa yang digunakan Hasjmy. Masy’ari menyebut dakwah bil kitabah dengan dakwah bit tadwin, yaitu dakwah yang dilaksanakan melalui media tulis, seperti kitab-kitab, buku-buku dan tulisan-tulisan yang mengandung usaha dakwah. Dakwah bil hal diistilahkan dengan dakwah bil qudwah, yaitu dakwah yang disertai dengan menampilkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia), prilaku yang bagus dan amal perbuatan yang saleh16.
Menurut H. Anwar Masy’ari dosen Ilmu Dakwah pada Fakultas Ushuluddin ini, kedua bentuk dakwah di atas semakin urgen dalam kehidupan sekarang, sesuai dengan perkembangan kebudayaan atau peradaban modern. Khusus dengan dakwah bil qudwah atau dakwah bil hal diprediksikan sebagai model dakwah masa depan, karena di samping praktis pelaksanaannya, juga elastis sifatnya serta jelas tujuannya, yaitu transpormasi keteladanan baik sifat, sikap, prilaku maupun perkataan16.
Bertitik tolak pada penjelasan di atas dapat digarisbawahai ada tiga bentuk pelaksanaan dakwah secara umum, yaitu dakwah bi al-lisan, bi al-kitabah dan bi al-hal. Yang pertama pelaksanaannya melalui lisan, penjabarannya bisa kata-kata yang disampaikan langsung seperti ceramah agama di majelis taklim, khutbah Jum’at dan lain sebagainya. Yang kedua pelaksanaanya melalui tulisan seperti di media masaa cetak berupa surat kabar, majalah, tabloid atau buku dan sejenisnya.
Sedangkan yang ketiga pelaksanaannya melalui perbuatan nyata seperti mendirikan lembaga pendidikan, panti asuhan dan berbagai perilaku positif yang mencerminkan realisasi ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini apakah berupa interaksi langsung di tengah-tengah masyarakat, maupun konteksnya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apabila ditelusuri dan digarisbawahi dengan seksama, ketiga bentuk kegiatan dakwah tersebut pada prinsipnya menuju ke arah yang sama. Artinya, walau menempuh langkah atau cara sendiri-sendiri dan dengan pendekatan serta pertimbangan maupun alasan masing-masing. Namun tujuan, sasaran maupun target yang ingin dicapai, tidaklah berbeda, alias sama.
Sehubungan dengan hal tersebut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap dalam bukunya Islam : Konsep dan Implementasi Pemberdayaan, mengkritik pola penyelenggaraan dakwah yang dinilainya masih menampilkan realitas “kemajemukan otonom”. Yaitu kemajemukan yang unsur-unsurnya (dakwah bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil kitabah) berdiri sendiri, dan bergerak dengan metode dan bahkan ke arah tujuan yang bersifat sekretarianistik.
Meskipun terlihat adanya kesamaan tujuan, namun visi tentang tujuan yang sama tersebut seringkali berbeda. Kemajemukan otonom dakwah Islam itu terlihat pula pada materi dakwah yang pada satu sisi bertumpu pada penekanan fiqhiyah, dan pada sisi lain terlihat pula pada penekanan-penekanan aspek ajaran-ajaran Islam lainnya. Di samping itu juga terlihat pada kemajemukan pendekatan, yaitu pendekatan kultural, pendekatan struktural, dan kekhususan spiritualitas.
Lebih lanjut beliau mengingatkan sekaligus menyarankan, mestinya bentuk-bentuk dakwah tersebut digarap secara sistemik, di mana masing-masing unsur merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem. Jadi harus bersifat simbiotik dan sinergis, yakni masing-masing unsur saling tergantung dan memerlukan, serta masing-masing unsur bergerak menuju arah yang sama .
Konteknya dengan simbiotika dakwah yang ditawarkan tersebut, Syahrin Harahap menerangkan dengan cukup argumentatif yaitu: Pendekatan lisan, sebagaimana yang telah terbudaya sejak dipraktekkan nabi Muhammad SAW, memang telah banyak mengubah cara pandang masyarakat terhadap hidup dan kehidupan ke arah yang lebih baik. Dan metode ini tampaknya akan terus dibutuhkan terutama setelah dakwah Islam dilaksanakan melalui layar kaca. Namun harus pula diakui bahwa umat manusia saat ini, tanpa terkecuali umat beragama, sedang memasuki era baru, suatu era media dan supremasi kultur tulis, saat dunia didominasi oleh komunitas yang memiliki ‘kultur tulis’.
Jadi jika dakwah Islam ingin berperan dalam pengembangan masyarakat ke arah yang diinginkannya, tentulah dakwah bi al lisan sangat membutuhkan da’wah bi al kitabah. Untuk itulah tampaknya perlu dikembangkan di kalangan para da’i bahwa menyampaikan pesan agama melalui tulisan akan sama cepatnya dengan da’wah bi al-lisan, membawa manusia ke sorga.
Kebutuhan dakwah terhadap pendekatan kitabah itu semakin terlihat signifikansinya, ketika manusia terlihat semakin tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi para da’i halaqah, dan majlis ta’limnya. Pendalaman agama lebih banyak dilakukan dengan membaca tulisan-tulisan ahli agama di mass media, majalah, jurnal-jurnal dan internet, yang sewaktu-waktu dapat ditemukannya.
Dijelaskan pula, bahwa dakwah Islam, selain dengan lisan dan tulisan, juga sangat membutuhkan aktifnya da’i untuk membumikan konsep-konsep yang disampaikan dalam tataran kehidupan. Di sini akan semakin jelas bahwa dakwah dengan tindakan akan lebih bermakna ketimbang dakwah dengan lisan (lisaan al-hal afshahu min lisan al-maqal).
Begitulah dakwah Islam dengan lisan sangat membutuhkan dakwah tulisan, dan keduanya juga sangat membutuhkan dakwah bi al-hal. Semakin banyak berkata dan menulis tanpa dapat mendaratkannya dalam kehidupan,akan semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap dakwah Islam. Oleh karenanya, ketiganya saling bergantung dan saling membutuhkan dalam membantu masyarakat mewujudkan penyelenggaraan hidup yang baik18.

IV. ANALISIS
Menarik diamati bahwa sejak pertama kali Isam tampil ke planet bumi, dakwah punya andil begitu besar lagi menentukan. Islam berkembang dan dibina serta dikembangkan melalui komunikasi dakwah. Karena itu Islam pun disebut agama dakwah. Predikat itu tidak saja sangat beralasan, tapi justru memang sangat relevan, sebab secara manual maupun secara digital atau berbasis teknologi dakwah bisa disosialisasikan dan diaktualisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Khusus dalam era kemajuan pesat di bidang teknologi komunikasi dan informasi yang kini tengah memasuki kehidupan manusia modern, ada berbagai macam peluang dan fasilitas yang dihasilkan teknologi komunikasi informasi, dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem penyelenggaraan dakwah. Baik bentuk dakwah lisan, tulisan maupun perbuatan bisa disajikan dengan model-model yang simpatik, sesuai dengan kecenderungan situasi dan kondisi objek dakwah.
Model dakwah yang komunikatif sudah saatnya ditumbuhkembangkan sejalan dengan perkembangan peradaban dan dinamika ilmu dakwah itu sendiri. Kesempatan ini harus betul-betul dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para ulama, cendekiawan dan juru dakwah, serta umat Islam pada umumnya.
Dalam dimensi kekinian, di mana eksistensi Ilmu Dakwah sudah tidak diragukan lagi sebagai sebuah disiplin ilmu yang ilmiah; sepatutnyalah dilakukan pengkajian lebin intensif. Penelitian tentang dakwah dalam di masa sekarang harus lebih digalakkan, sesuai dengan nuansa kehidupan manusia modern dengan peradaban globalnya. Dari sinilah nantinya bisa ditawarkan berbagai solusi dalam mengatasi krisis dunia modern yang melanda umat manusia. Berbagai model bimbingan, penyuluhan maupun terapi yang bermuatan dakwah, akan bisa ditawarkan sesuai kebutuhan dan tuntutan kekinian.
Mencermati apa yang saat ini tengah melanda bangsa kita yang terjadi hampir di seluruh nusantara, ada baiknya untuk bersama melakukan muhasabah di tengah-tengah musibah. Artinya kita perlu mengintrospeksi diri untuk merenungi segala macam bencana maupun malapetaka yang terjadi, baik di darat, laut, udara dan lain sebagainya. Ajakan untuk melakukan muhasabah ini terutama sekali kita tujukan kepada umat Islam di negeri ini, sebab siapa tahu di antara kita ada yang lupa, lalai atau tidak mengindahkan apa yang sudah diperingatkan Allah dalam firman-Nya surah Ar-Rum ayat 42:
               
Artinya: Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Islam sebagai agama dakwah harus mampu mempelopori diri sendiri secara prioritas, sebelum mengembangkan lebih jauh dalam bentuk lintas batas. Artinya sebelum mendakwahi orang lain kita harus mendakwahi diri sendiri lebih dahulu. Dalam hal ini apakah dalam konteks sebagai individu ataukah sebagai bagian dari komunitas umat Islam itu sendiri. Pola dakwah semacam inilah yang patut dibangun, disosialisasi, diaktualisasi dan diaplikasikan dalam kehidupan di zaman sekarang.
Sebagaimana yang diajarkan Islam, inti dakwah adalah ingin melakukan perubahan sosial, yakni terwujudnya umat Islam dan masyarakat dunia yang lebih berkualitas di bawah naungan dan tuntunan Islam. Dakwah dalam konteks kekinian dengan fenomena seperti ini, harus digarap secara lebih intens di negara kita yang memang mayoritas beragama Islam dibandingkan masyarakat lainnya di negara-negara yang ada dunia.

V. PENUTUP
Islam sebagai agama dakwah harus dipahami oleh seluruh lapisan umat Islam, karena itu pemahaman mengenai hal ini harus disampaikan secara terarah, terkoordinasi, terpadu dan berkelanjutan. Tugas ini terutama sekali harus dilaksanakan oleh para ulama, juru dakwah, cendekiawan, praktisi dan pengamat dakwah. Bila ini bisa direalisasikan, niscaya cepat atau lambat akan tumbuh kesadaran untuk melaksanakan dakwah secara pribadi, walau menurut kemampuan masing-masing. Hal ini akan memberi pencerahan tersendiri bagi umat Islam, dan malah tidak mustahil menjadi jalan utama menuju kebangkitan.
Manakala Islam sebagai agama dakwah dapat dicerna dan dipahami secara benar, dapat dipastikan ada secercah harapan pengamalan ajaran agama dilaksanakan oleh umat Islam. Paling tidak, semangat untuk mendakwahkan Islam makin menggebu-gebu dan bersemangat, sehingga akan bergemalah semboyan : “Tiada hari tanpa dakwah”.