BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kedatangan Islam pada abad ke 7 Masehi membawa pembangunan dunia baru dengan cita-cita, pemikiran baru, kebudayaan dan peradaban baru. Rasulullah saw dalam mendakwahkan Islam didasarkan pada azas monoteisme, dimana ajaran yang terkandung di dalamnya sangat aktual dengan fitrah manusia. Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam setelah beliau wafat dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau (khulafaur Rasyidin) serta para khalifah dan ulama-ulama setelahnya.
Islam dalam penyebarannya memberikan sumbangan besar bagi peradaban dunia baik yang menyangkut iptek maupun kebudayaan. Ketika Islam datang ke nusantara, Nusantara sudah mempunyai peradaban lokal, pengaruh dari Hindu dan Budha dari India, yang menurut beberapa sumber pengaruhnya tidak merata, di Jawa pengaruhnya amat kuat di Sumatera lapisan pengaruhnya tidak merata, di Jawa pengaruhnya amat kuat di Sumatera lapisan pengaruhnya tipis sedang di pulau-pulau lainnya belum ada. Walaupun demikian ketika Islam datang, Islam dengan mudah menyebar ke pelosok nusantara. Hal ini disebabkan Islam yang dibawa oleh para dai yang datang ke nusantara menawarkan sebuah ajaran dan peradaban yang jauh lebih maju daripada peradaban lokal, dalam bidang teologi Islam menawarkan bentuk monoteisme yang mudah dipahami masyarakat, dalam pranata sosial Islam memberikan solusi tegas bahwa setiap manusia itu sama dihadapan Tuhan, Islam tidak mengenal sistem kasta dan feodalisme begitu pula dalam bidang sufistik Islam menawarkan konsep yang jauh lebih maju dan mendasar dibandingkan dengan klenik lokal yang dipengaruhi Hindu Budha. Demikian pula dalam hal kesenian Islam jauh lebih maju dibandingkan Hindu Budha.
Dengan datangnya Islam ke nusantara, masyarakat lokal mengalami transformasi sosial, dari agraris feodal ke masyarakat urban yang egaliter dan humanis. Ini dapat dibuktikan pada hakekatnya peradaban Islam hakikatnya adalah urban perkotaan, yang penyebaran awalnya memang di pelabuhan-pelabuhan perkotaan yang mendapat restu dari istana, yang kemudian istana menjadi pusat pengembangan intelektual, politik ekonomi dengan pengaruh Islam. Nusantara menjadi maju terutama dalam bidang perdagangan, terutama hubungan dengan internasional dengan negara-negara Timur Tengah, dari kontal inilah proses Islamisasi dan transformasi yang belum selesai datanglah pedagang Barat, sehingga transformasi keislaman menjadi terganggu.
Problematika Islam di Nusantara secara historis teoritis mengandung banyak versi, misalnya sejarah awal masuknya dan perkembangan. Oleh karena itu para sarjana sering berbeda pendapat. Kita harus mengakui bahwa penulis sejarah di Nusantara dimulai oleh para orientalis barat yang berusaha meminimalis peran Islam dan sekaligus memojokkannya. Sungguh pun demikian masih ada sarjana-sarjana muslim yang menulis tentang Islam di Nusantara dengan mengemukakan fakta sejarah yang lebih jujur.
Suatu kenyataan kedatangan Islam di Nusantara dilakukan secara damai. Penyebaran oleh para pedagang kemudian para dai dan pengembaraan para sufi dan orang yang terlibat dakwah pertama ini tidak mempunyai tedensi apapun kecuali menunaikan kewajiban, tiada pamrih, sehingga nama-nama mereka tidak tercatat dalam dokumen atau prasasti dan dilembah luasnya wilayah nusantara.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat penulis buat suatu rumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana proses kedatangan Islam di Nusantara?
2. Bagaimana perkembangan Islam di Nusantara?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Kedatangan Islam di Nusantara
Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang di jual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara China dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual pada pedagang asing.
Sebagaimana dikutip oleh Badri Yatim dari buku Sejarah Nasional Indonesia III karya Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa Pedagang-pedangang muslim asal Arab, Persia, dan India juga telah sampai ke kepulauan Nusantara untuk berdagang sejak abad ke-7 M (abad I H), ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka, jauh sebelum ditaklukan oleh Portugis (1511) merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara di bawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih ke Barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab. Dari sana perjalanan bercabang dua. Jalan pertama di sebelah utara menuju Teluk Oman, melalui Selat Ormuz, ke Teluk Persia. Jalan kedua melalui Teluk Aden dan Laut Merah, dan dari kota Suez jalan perdagangan harus melalui daratan ke Kairo dan Iskandariah. Melalui jalan pelayaran tersebut, kapal-kapal Arab, Persia, dan India mondar-mandir dari Barat ke Timur dan terus ke negeri Cina dengan menggunakan angin musim untuk pelayaran pulang perginya.
Menurut J.C. Van Leur, Berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa dimasa Dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kanfu) dan Sumatera. Ta-Shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia bagian timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Akan tetapi, belum ada bukti bahwa pribumi Nusantara di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama Islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang paling bisa dipertanggungjawabkan ialah para pedagang Arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran
Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Menjelang abad ke -13 m, masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang di Sumatera. Di Jawa, makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit.
Terdapat perbedaan pendapat antara para sejarawan tentang teori masuknya Islam ke Nusantara. Secara garis besar perbedaan pendapat tentang teori masuknya Islam ke Nusantara dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Pendapat pertama yang pelopori sarjana-sarjana orientalis Belanda, diantaranya Snouck Hongronje yang berpendapat Islam datang ke Nusantara melalui Gujarat India (bukan dari arab) pada abad 13 M dengan bukti ditemukannya makam sultan yang beragama Islam pertama Malik As Sholeh, Sultan pertama kerajaan Samudra Pasai yang dikatakannya berasal dari Gujarat.
2. Pendapat kedua dikemukakan sarjana-sarjana muslim sendiri yang dipelopori Prof. Hamka yang pada seminar masuknya Islam di Nusantara di Medan tahun 1963 mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah ( ± abad ke 7 sanpai 8 masehi) langsung dari arab dengan bukti bahwa jalur pelayaran internasional sudah ramai dan jauh dari abad ke 13 yaitu dimulai abad 7 sampai 8 M melalui selat malaka yang menghubungkan dinasti Tang di China dan Sriwijaya di Timur dengan Bani Umaiyah di Asia barat.
3. Sarjana muslim kontemporer yang dipelopori Taufiq Abdulloh dan Kunto Wijoyo yang berusaha mengkompromikan kedua pendapat di atas, memang benar Islam sudah datang ke nusantara pada abad 7 sampai 8 M, namun baru dianut oleh seklompok timur tengah di kota pelabuhan-pelabuhan, dan Islam masuk secara besar-besaran pada abad ke 13 M yang dianut oleh para raja dan menjadi kekuatan politik (samudra pasai) hal ini sebagai arus balik dari hancurnya Baghdad dari serangan Hulagu, sehingga pedagang muslim mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Asia Selatan, Tenggara dan Timur.
Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Perdaban Islam mengutip dari Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa ada enam saluran masuknya Islam ke Nusantara yaitu:
1. Saluran Perdagangan
Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. Membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia, dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan Timur Benua Asia. Para pedagang Muslim banyak bermukim di pesisir pulau Jawa yang penduduknya waktu itu masih non-muslim. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyk yang masuk Islam, ini karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang muslim. Selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2. Saluran Perkawinan
Para saudagar dan dai-dai yang menikah dengan keturunan bangsawan setempat yang keturunannya mempunyai pengaruh sosial yang tinggi di masyarakat.
3. Saluran Tasawuf
Ajaran tasawuf “bentuk Islam” yang diajarkan oleh para sufi mempunyai persamaan dengan alam fikiran penduduk setempat yang sebelumnya menganut agama Hindu. Ini menyebabkan Islam mudah diterima oleh mereka.
4. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama-ulama. Lulusan dari pondok atau pesantren ini kemudian berdakwah ke kampungnya masing-masing.
5. Saluran Kebudayaan dan Kesenian
Kebudayaan dan kesenian merupakan saluran yang banyak dipakai untuk mengislamkan masyarakat Jawa, terutama dipakai Sunan Kalijaga, baik seni suara, sastra, syair, bangunan dan wayang kulit.
6. Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini.

B. Perkembangan Islam di Nusantara
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

1. Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera
Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang Muslim sejak abad ke-7 M, ke-8 M, dan seterusnya.
Samudera Pasai terus berkembang di bawah pimpinan Al-Malik Al Salih. Beliau mempunyai semangat yang kuat untuk menyebarkan Dakwah Islamiyah, dan baginda memainkan peranan yang penting dalam menyebarkan agama Islam, akan tetapi sejarah tidaklah menyebut dengan detail tentang usaha-usaha beliau mengembangkan Dakwah Islamiyah dan sejauh mana kejayaannya.
Sementara itu Islam di kerajaan Aceh yang juga terletak di ujung sumatera juga mengalami perkembangan, menurut H.J. de Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14. menurutnya kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal.
Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan juga diislamkan, juga Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan kepada Portugis.

2. Perkembangan Islam di Jawa
Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi Raja Majapahit. Hal itu memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.
Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Dikatakan ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu Muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknya, Sambrang Lor, dikenal juga dengan nama Pati Unus.
Di wilayah Pajang juga berkembang kerajaan Islam yaitu Kesultanan Pajang yang dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan yang terletak di daerah Kartasura sekarang itu merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman Pulau Jawa. Sultan atau raja pertama kerajaan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengking, di lereng Gunung Merapi. Oleh Raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang.
Dari kerajaan Pajang ini kemudian tumbuh kerajaan Mataram. Kerajaan ini bermula ketika Sultan Adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamanahan yang berasal dari daerah pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Penangsang. Sebagai hadiahnya sultan kemudian menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Pamanahan yang menurunkan raja-raja Mataram Islam kemudian.
Kerajaan Islam lainnya di pulau Jawa yaitu Kesultanan Cirebon yang pertama di Jawa Barat didirikan oleh Sunan Gunung Jati, dan Kerajaan Banten yang dipimpin oleh putera Sunan Gunung Jati yaitu Sultan Hasanuddin.

3. Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi
Masuknya Islam di Kalimantan agak sulit pada waktu itu untuk berada pada satu kekuasaan. Daerah barat laut menerima Islam dari Malaya, daerah timur dari Makassar dan wilayah Selatan dari Jawa.
Di Kalimantan Selatan berdiri kerajaan Banjar yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Daha yang beragama Hindu. Peristiwa ini dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana, yaitu antara Pangeran Samudera dan pamannya Pangeran Tumenggung. Pada waktu itu Pangeran Samudera meminta bantuan ke Kesultanan Demak untuk menghadapi pamannya Pangeran Tumenggung. Kesultanan Demak akan membantu Pangeran Samudera dengan syarat mereka harus masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri setelah masuk Islam diberi nama Sultan Suryanullah atau Sultan Suriansyah.
Di Kutai Kalimantan Timur Islam berkembang pada masa pemerintahan Raja Mahkota. Penyebar Islam di Kutai adalah Tuan di Bandang yang dikenal dengan Dato’ Ri Bandang dari Makassar dan Tuan Tunggang Parangan.
Islam juga mencapai kepulauan rempah-rempah yang sekarang dikenal dengan Maluku ini pada pertengahan terakhir abad ke-15. sekitar tahun 1460 M, raja Ternate memeluk agama Islam, nama rajanya adalah Vongi Tidore. Di masa itu, gelombang perdagangan Muslim terus meningkat, sehingga raja menyerah kepada tekanan para pedagang muslim itu dan memutuskan belajar tentang Islam pada madrasah Giri. Karena usia Islam masih muda di Ternate, Portugis yang tiba di sana tahun 1522 M, berharap dapat menggantikannya dengan agama Kristen. Harapan itu tidak terwujud, usaha mereka hanya mendatangkan hasil yang sedikit.
Sementara itu Islam di Sulawesi juga telah sampai, pada waktu itu Kerajaan Gowa-Tallo tampil sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan baik dengan Ternate yang telah menerima Islam dari Gresik/Kediri. Dibawah pemerintahan Sultan Babullah, Ternate mengadakan perjanjian persahabatan dengan Gowa-Tallo. Ketika itulah, raja Ternate berusaha mengajak penguasa Gowa-Tallo untuk menganut agama Islam, tetapi gagal. Baru pada waktu Datu’ Ri Bandang datang ke kerajaan Gowa-Tallo, agama Islam mulai masuk kerajaan ini. Alauddin (1591-1636 M) adalah sultan pertama yang masuk Islam tahun 1605.
Penyebaran Islam di Sulawesi sesuai dengan tradisi yang telah lama di teruma oleh para raja, keturunan To Manurung. Tradisi itu mengharuskan seorang raja untuk memberitahukan “hal baik” kepada yang lain. Karena itu, kerajaan kembar Gowa-Tallo menyampaikan “pesan Islam” kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, yang lebih tua, Wajo, Soppeng, dan Bone. Raja Luwu segera menerima “pesan Islam itu”. Sementara itu, tiga kerajaan : Wajo, Soppeng, dan Bone yang terikat dalam aliansi Tallumpoeco (tiga kerajaan) dalam perebutan hegemoni dengan Gowa-Tallo, Islam kemudian melalui peperangan.
4. Masuknya Islam di Papua dan Nusa Tenggara
Beberapa kerajaan di kepulauan Maluku yang wilayah teritorialnya sampai di pulau Papua menjadikan Islam masuk pula di pulau Cendrawasih ini. Banyak kepala-kepala suku di wilayah Waigeo, Misool dan beberapa daerah lain yang di bawah administrasi pemerintahan kerajaan Bacan. Pada periode ini pula, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala-kepala suku di Pulau Papua memeluk Islam. Namun, dibanding wilayah lain, perkembangan Islam di pulau hitam ini bisa dibilang tak terlalu besar.
Islam masuk ke wilayah Nusa Tenggara bisa dibilang sejak awal abad ke-16. Hubungan Sumbawa yang baik dengan Kerajaan Makassar membuat Islam turut berlayar pula ke Nusa Tenggara. Sampai kini jejak Islam bisa dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah para Muslim sejak mula.
Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-orang Bugis datang ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam di sana. Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan bahasa Bugis.
Dengan data dan perjalanan Islam di atas, sesungguhnya bisa ditarik kesimpula, bahwa Nusantara adalah negeri Islam. Bahkan, lebih jauh lagi, jika dikaitkan dengan peran Islam di berbagai kerajaan tersebut di atas, Nusantara telah memiliki cikal bakal atau embrio untuk membangun dan menjadi sebuah negara Islam.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Masuknya Islam ke nusantara melalui cara perdamaian, yaitu melalui para pedagang dari Arab dan India. Meskipun ada bermacam teori masuknya Islam ke nusantara diantaranya yaitu teori Gujarat yang menyatakan bahwa Islam datang dari Gujarat India, dan teori Makkah yang dipaparkan oleh Hamka yang menyebutkan Islam datang langsung dari Makkah.
Saluran-saluran Islamisasi ke Nusantara ada enam menurut Uka Tjandrasasmita, yaitu:
1. Saluran Perdagangan
2. Saluran Perkawinan
3. Saluran Tasawuf
4. Saluran Pendidikan
5. Saluran Kesenian
6. Saluran Politik
Perkembangan Islam di nusantara di lakukan secara damai, meskipun ada beberapa juga terjadi peperangan. Islam berkembang di sumatera yaitu diantaranya yaitu di kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh. Di Kalimantan Islam berkembang diantaranya di kerajaan Banjar dan Kerajaan Kutai. Di Sulawesi Islam berkembang di kerajaan Gowa-Tallo.

DAFTAR PUSTAKA

A. Hasyimy, Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: Al-Ma’arif, 1981

Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah -Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia, Jakarta: Mizan, 1996

Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Bandung: Rosdakarya, 1999

Badri Yatim, , Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006

Taufiq Abdullah, Sejarah Umat Islam di Indonesia, MUI, 1991

http://www.ummah.net/islam/nusantara/sejarah.html. 01/01/2010, Sejarah Islam Indonesia

http://spistai.blogspot.com/2009/03/sejarah-kedatangan-islam-di-indonesia.html,